Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Kerja Bakti Nasional 2025 dan 17 Agustus 2025
No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Kerja Bakti Nasional 2025 dan 17 Agustus 2025
No Result
View All Result
Lembaga Dakwah Islam Indonesia
No Result
View All Result
Home Artikel Opini

Mengapa Tacit Knowledge Harus Menjadi Explicit Knowledge?

2026/02/01
in Opini
0
Ilustrasi: Pinterest.

Ilustrasi: Pinterest.

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Sudarsono*

“Ilmu sering kali hilang bukan karena tidak berharga, melainkan karena tidak pernah diwariskan. Dari dapur nenek dengan gulai ayam yang tak tertulis hingga lenyapnya ilmu kanuragan dan kebijaksanaan Jawa, kita melihat betapa rapuhnya pengetahuan yang hanya tersimpan di kepala. Islam mengingatkan, “Sampaikanlah dariku walau satu ayat”—ajakan agar setiap pengetahuan, sekecil apa pun, dibagikan agar menjadi cahaya bagi generasi berikutnya.”

Bayangkan sebuah dapur sederhana di kampung. Nenek memasak gulai ayam dengan cita rasa yang membuat seluruh keluarga rindu pulang. Namun, resep itu tak pernah ditulis. Semua hanya ada di kepala dan tangan nenek. Ketika nenek sakit, gulai itu pun hilang bersama memori yang tak sempat diwariskan. Kisah ini sederhana, tetapi mencerminkan betapa rapuhnya pengetahuan jika hanya disimpan dalam ingatan.

Fenomena serupa terjadi dalam khazanah budaya Jawa. Ilmu kanuragan, kebijaksanaan hidup, dan falsafah leluhur dahulu diwariskan melalui laku, petuah, dan praktik sehari-hari. Namun, banyak yang hilang karena tidak terdokumentasi. Generasi muda hanya mendengar cerita samar, tanpa memahami makna mendalam yang dulu menjadi pedoman hidup. Pengetahuan yang seharusnya menjadi warisan berharga lenyap bersama para sesepuh.

Dalam perspektif Islam, hilangnya pengetahuan adalah kehilangan cahaya. Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya kurang lebih: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari hamba-hamba-Nya, tetapi mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Hingga apabila tidak tersisa seorang alim pun, manusia mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh; mereka ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, maka sesatlah mereka dan menyesatkan orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa ilmu yang tidak diwariskan akan hilang bersama pemiliknya, meninggalkan kekosongan yang berbahaya bagi masyarakat.

Gulai nenek dan ilmu kanuragan Jawa adalah dua ilustrasi yang berbeda, tetapi keduanya menunjukkan hal yang sama: pengetahuan yang tidak dituliskan akan hilang. Islam mengajarkan bahwa ilmu harus disampaikan, sekecil apa pun. “Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Tirmidzi). Pesan ini bukan hanya ajakan untuk berdakwah, tetapi juga peringatan agar pengetahuan tidak berhenti di kepala kita.

Maka, tugas kita adalah menjadikan tacit knowledge sebagai explicit knowledge. Menuliskan resep, mendokumentasikan kebijaksanaan, merekam pengalaman, dan mengajarkan keterampilan adalah bentuk menjaga amanah ilmu. Dengan begitu, pengetahuan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang, memberi manfaat bagi generasi berikutnya, dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.

Tacit Knowledge: Ilmu yang Diam di Kepala

Tacit knowledge adalah pengetahuan yang hidup dalam diri seseorang, melekat pada pengalaman, intuisi, dan keterampilan yang ia miliki. Ia bukan sekadar kumpulan informasi, melainkan hasil dari proses panjang interaksi dengan dunia nyata. Uniknya, pengetahuan ini sering kali sulit diungkapkan dengan kata-kata. Seorang tukang kayu, misalnya, bisa langsung mengetahui kualitas sebuah papan hanya dengan mengetuknya. Dokter senior mampu merasakan ada yang tidak beres pada pasien bahkan sebelum hasil laboratorium keluar. Seorang atlet tahu kapan harus menahan napas atau mempercepat langkah tanpa sempat berpikir panjang. Semua itu adalah contoh bagaimana tacit knowledge bekerja: ia hadir sebagai insting, kebiasaan, dan kepekaan yang lahir dari pengalaman berulang.

Karena sifatnya yang personal dan kontekstual, tacit knowledge sering kali tidak disadari oleh pemiliknya. Ia seperti harta karun yang tersimpan di dalam kepala, berharga namun tersembunyi. Pengetahuan ini tidak bisa begitu saja dipindahkan dari satu orang ke orang lain, karena ia tumbuh dari praktik nyata dan situasi spesifik. Inilah yang membuat tacit knowledge begitu penting sekaligus rapuh: ia sangat berharga, tetapi bisa hilang begitu saja jika tidak diubah menjadi bentuk yang lebih terang.

Dengan memahami tacit knowledge, kita menyadari bahwa banyak hal yang kita ketahui sebenarnya tidak pernah kita tuliskan atau ajarkan. Ia diam, tetapi menentukan kualitas kerja, keputusan, bahkan kehidupan kita sehari-hari.

Explicit knowledge: Ilmu yang Terang dan Bisa Dibagikan

Jika tacit knowledge adalah ilmu yang diam di kepala, maka explicit knowledge adalah ilmu yang sudah keluar ke dunia, terang, terdokumentasi, dan bisa diwariskan. Explicit knowledge hadir dalam bentuk yang bisa dibaca, dipelajari, dan dibagikan: buku manual kerja, SOP perusahaan, artikel, video tutorial, hingga podcast. Ia adalah pengetahuan yang tidak lagi bergantung pada satu orang, melainkan bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja.

Bayangkan seorang guru yang menuliskan metode mengajarnya dalam sebuah modul. Murid-murid tidak hanya belajar dari kehadiran guru itu, tetapi juga dari catatan yang bisa digunakan oleh guru lain di masa depan. Atau seorang pengusaha kuliner yang merekam resep rahasia dalam bentuk video. Resep itu tidak lagi hanya milik dirinya, tetapi bisa dipelajari oleh timnya, bahkan oleh generasi berikutnya.

Explicit knowledge memiliki kekuatan untuk melampaui batas waktu dan ruang. Ia memungkinkan pengetahuan bertahan meski pemiliknya sudah tidak ada. Ia juga membuka peluang kolaborasi, karena pengetahuan yang terdokumentasi bisa dipakai bersama, dikembangkan, dan diperkaya oleh banyak orang.

Dalam dunia modern, explicit knowledge menjadi fondasi bagi inovasi. Tanpa dokumentasi, riset tidak bisa berkembang. Tanpa catatan, pengalaman berharga akan hilang. Dengan explicit knowledge, kita tidak hanya menjaga pengetahuan tetap hidup, tetapi juga memberi kesempatan bagi orang lain untuk melompat lebih jauh.

Singkatnya, explicit knowledge adalah jembatan yang menghubungkan pengalaman pribadi dengan manfaat kolektif. Ia mengubah pengetahuan dari sesuatu yang eksklusif menjadi sesuatu yang inklusif, dari sesuatu yang rapuh menjadi sesuatu yang berkelanjutan.

Mengapa Tacit Knowledge Perlu Dijadikan Explicit?

Bayangkan seorang karyawan senior di sebuah perusahaan besar. Selama puluhan tahun ia menguasai seluk-beluk mesin, memahami pola kegagalan, bahkan bisa “merasakan” kapan sebuah sistem akan bermasalah. Namun, semua pengetahuan itu hanya ada di kepalanya. Ketika ia pensiun, perusahaan kehilangan aset berharga yang tidak pernah ditulis. Inilah risiko terbesar dari tacit knowledge: ia bisa hilang begitu saja, lenyap bersama pemiliknya.

Mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge adalah cara untuk memastikan pengetahuan tidak lenyap bersama waktu. Dengan dokumentasi, pengalaman berharga bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Proses belajar pun menjadi lebih cepat, karena orang baru tidak perlu mengulang trial and error yang sama. Mereka bisa langsung melompat ke tahap berikutnya dengan bekal pengetahuan yang sudah terang.

Selain itu, explicit knowledge membuka ruang kolaborasi. Pengetahuan yang terdokumentasi bisa dipakai bersama, dikembangkan, dan diperkaya oleh banyak orang. Ia tidak lagi menjadi milik eksklusif satu individu, melainkan menjadi aset kolektif. Dari sinilah lahir inovasi. Ketika pengetahuan tersedia dan bisa diakses, ide-ide baru lebih mudah muncul.

Contoh nyata bisa kita lihat pada komunitas open-source. Ribuan programmer di seluruh dunia berbagi kode dan pengalaman. Jika pengetahuan mereka hanya disimpan di kepala, Linux atau Python tidak akan pernah berkembang. Tetapi karena mereka menuliskan, mendokumentasikan, dan membagikan, lahirlah ekosistem teknologi global yang terus tumbuh.

Dalam konteks budaya, hal yang sama berlaku. Batik, jamu, dan wayang adalah tacit knowledge yang diwariskan turun-temurun. Ketika pengetahuan itu mulai ditulis, diteliti, dan dipublikasikan, ia berubah menjadi explicit knowledge yang bisa dipelajari oleh siapa saja. Hasilnya, budaya Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga diakui dunia.

Di sinilah nuansa Islam memberi kedalaman makna. Islam menempatkan ilmu sebagai cahaya yang harus dibagikan. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Tirmidzi). Pesan ini sederhana namun mendalam: sekecil apa pun pengetahuan yang kita miliki, jangan biarkan ia berhenti di kepala kita. Bagikanlah, karena ilmu yang dibagikan akan menjadi amal jariyah.

Al-Qur’an pun menegaskan: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11). Ilmu yang dibagikan, bukan hanya disimpan, adalah ilmu yang memberi manfaat luas dan meninggikan derajat pemiliknya. Dengan kata lain, menjadikan *tacit knowledge* sebagai explicit knowledge adalah bentuk nyata dari amanah seorang Muslim: menjaga dan menyebarkan ilmu agar memberi manfaat bagi umat.

Imam Al-Ghazali menambahkan dimensi reflektif: “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.” Pengetahuan yang hanya diam di kepala tidak cukup; ia harus diwujudkan, dibagikan, dan diamalkan. Ketika tacit knowledge diubah menjadi explicit, ia tidak hanya menjadi catatan, tetapi juga peluang untuk diamalkan oleh orang lain.

Dalam perspektif Islam, berbagi ilmu adalah ibadah. Setiap kali kita menuliskan pengalaman, merekam cerita, atau mengajarkan keterampilan, kita sedang menanam benih amal jariyah. Ilmu itu akan terus hidup, bahkan setelah kita tiada, dan pahala akan terus mengalir. Maka, menjadikan tacit knowledge sebagai explicit knowledge bukan sekadar strategi manajemen pengetahuan, melainkan juga jalan menuju keberkahan.

Lebih jauh lagi, transformasi ini sejalan dengan konsep khairu ummah—umat terbaik yang disebut dalam Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 110). Umat terbaik adalah mereka yang mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah. Salah satu bentuk mengajak kepada kebaikan adalah dengan berbagi ilmu. Ketika pengetahuan yang kita miliki terdokumentasi dan bisa diakses, kita sedang menunaikan peran sebagai umat terbaik: memberi manfaat, membimbing, dan membuka jalan bagi orang lain.

Dengan demikian, menjadikan tacit knowledge sebagai explicit knowledge bukan hanya soal efisiensi atau inovasi. Ia adalah bentuk tanggung jawab moral, sosial, dan spiritual. Ia adalah upaya menjaga warisan, mempercepat pembelajaran, mendorong kolaborasi, membuka jalan bagi inovasi, sekaligus menunaikan amanah Islam untuk menyebarkan ilmu.

Pengetahuan yang dibagikan akan menjadi cahaya bagi orang lain, dan cahaya itu tidak pernah berkurang. Justru semakin banyak dibagikan, semakin terang ia bersinar. Dan bagi seorang Muslim, cahaya itu bukan hanya menerangi dunia, tetapi juga menjadi bekal menuju akhirat.

Tantangan dalam Transformasi Tacit ke Explicit

Mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge bukanlah pekerjaan mudah. Ada banyak hambatan yang membuat proses ini sering kali berjalan lambat atau bahkan gagal. Salah satu tantangan terbesar adalah kesulitan mengartikulasikan pengalaman. Banyak orang memiliki keterampilan yang luar biasa, tetapi ketika diminta menjelaskan langkah demi langkah, mereka bingung harus mulai dari mana. Pengetahuan yang lahir dari intuisi dan kebiasaan sering kali tidak mudah dituangkan dalam kata-kata atau dokumen.

Selain itu, ada resistensi individu. Sebagian orang merasa pengetahuan adalah aset pribadi yang memberi mereka keunggulan. Mereka khawatir jika pengetahuan dibagikan, maka nilai diri mereka akan berkurang. Padahal, dalam perspektif Islam, berbagi ilmu agama justru menambah keberkahan. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sampaikanlah dariku walau satu ayat” (HR. Tirmidzi). Pesan ini menegaskan bahwa ilmu agama bukan untuk disimpan, melainkan untuk disebarkan agar memberi manfaat luas.

Tantangan lain adalah keterbatasan bahasa dan alat dokumentasi. Tidak semua pengalaman bisa dituliskan dengan mudah, apalagi jika melibatkan kepekaan atau intuisi. Di sinilah teknologi digital, seperti video, podcast, atau wiki organisasi, bisa menjadi solusi.

Menghadapi tantangan ini, kuncinya adalah membangun budaya berbagi. Organisasi perlu memberi apresiasi kepada mereka yang mau mendokumentasikan pengetahuan. Individu perlu menyadari bahwa ilmu yang dibagikan tidak akan mengurangi nilai diri, melainkan menambah pahala dan manfaat. Dengan semangat berbagi, tantangan yang tampak besar akan berubah menjadi peluang untuk melahirkan warisan pengetahuan yang berkelanjutan.

Strategi Praktis dan Inspiratif

Setelah memahami tantangan dalam mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana cara praktis melakukannya? Transformasi ini bukan sekadar soal teknis, melainkan juga soal budaya, niat, dan kesadaran. Ada beberapa strategi yang bisa diterapkan, baik di tingkat individu maupun organisasi, agar pengetahuan berharga tidak berhenti di kepala, tetapi bisa menjadi warisan yang bermanfaat.

Salah satu cara paling sederhana adalah storytelling. Pengalaman yang sulit dijelaskan secara teknis sering kali lebih mudah dipahami dalam bentuk cerita. Seorang guru bisa menuliskan kisah bagaimana ia menghadapi murid yang sulit belajar, seorang dokter bisa menceritakan pengalaman menangani pasien dengan kondisi unik. Cerita-cerita ini bukan hanya menghibur, tetapi juga menyimpan pengetahuan praktis yang bisa dipelajari orang lain. Dalam Islam, tradisi hikmah dan kisah para nabi adalah bentuk storytelling yang mendidik, menginspirasi, dan diwariskan lintas generasi.

Strategi lain adalah mentoring dan coaching. Proses transfer pengetahuan tidak selalu harus formal. Dengan mendampingi orang lain, seorang ahli bisa sekaligus mendokumentasikan pengetahuan yang ia miliki. Misalnya, seorang pengrajin batik yang mengajarkan muridnya sambil menuliskan langkah-langkah proses membatik. Dengan cara ini, tacit knowledge tidak hanya ditransfer secara langsung, tetapi juga diubah menjadi catatan yang bisa dipelajari oleh lebih banyak orang.

Teknologi digital juga membuka peluang besar. Blog, video, podcast, dan wiki organisasi adalah sarana yang efektif untuk mendokumentasikan pengetahuan. Seorang petani bisa merekam video tentang cara membaca tanda alam, seorang pengusaha bisa menulis blog tentang strategi bisnisnya. Dengan teknologi, pengetahuan tidak hanya terdokumentasi, tetapi juga bisa diakses secara luas.

Namun, strategi ini tidak akan berhasil tanpa budaya berbagi. Organisasi perlu memberi apresiasi kepada mereka yang mau mendokumentasikan pengetahuan. Individu perlu menyadari bahwa berbagi ilmu bukan mengurangi nilai diri, melainkan menambah keberkahan. Nabi Muhammad SAW bersabda, yang artinya kurang lebih: “Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya” (HR. Muslim). Membagikan pengetahuan adalah salah satu bentuk menunjukkan kebaikan, karena orang lain bisa mengamalkannya dan kita tetap mendapat pahala.

Contoh inspiratif bisa kita lihat pada komunitas open-source. Ribuan programmer di seluruh dunia berbagi kode, pengalaman, dan solusi. Hasilnya adalah ekosistem teknologi yang terus berkembang, dari Linux hingga Python. Semua itu lahir karena tacit knowledge tidak dibiarkan diam, melainkan ditransformasikan menjadi explicit knowledge yang bisa diakses siapa saja.

Dengan storytelling, mentoring, teknologi digital, dan budaya berbagi, tacit knowledge bisa berubah menjadi explicit knowledge yang hidup, berkembang, dan memberi manfaat luas. Strategi ini bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal keberlanjutan, kolaborasi, dan spiritualitas. Karena pada akhirnya, ilmu yang dibagikan bukan hanya membangun dunia, tetapi juga menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhirat.

Kaitannya dengan Sustainable Development Goals (SDGs)

Transformasi tacit knowledge menjadi explicit knowledge bukan hanya penting bagi individu atau organisasi, tetapi juga memiliki kaitan erat dengan agenda global pembangunan berkelanjutan. SDGs, atau Sustainable Development Goals, adalah komitmen dunia untuk menciptakan kehidupan yang lebih adil, sejahtera, dan berkelanjutan. Menjadikan pengetahuan terang dan terdokumentasi adalah salah satu cara nyata untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut.

Pertama, SDG 4: Quality Education. Dokumentasi pengetahuan menjadikan ilmu lebih mudah diakses, dipelajari, dan diwariskan. Dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban, dan berbagi ilmu adalah ibadah. Dengan explicit knowledge, pendidikan berkualitas bisa menjangkau lebih banyak orang.

Kedua, SDG 8: Decent Work and Economic Growth. Pengetahuan yang terdokumentasi meningkatkan produktivitas dan efisiensi. UMKM dan industri kreatif bisa tumbuh lebih cepat karena generasi baru tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. Hal ini sejalan dengan prinsip Islam tentang bekerja keras dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Ketiga, SDG 9: Industry, Innovation, and Infrastructure. Explicit knowledge adalah bahan bakar inovasi. Tanpa dokumentasi, riset tidak bisa berkembang. Dengan pengetahuan yang terang, umat manusia bisa membangun industri dan infrastruktur yang lebih maju.

Keempat, SDG 11: Sustainable Cities and Communities. Pengetahuan lokal yang terdokumentasi membantu menjaga identitas budaya. Batik, jamu, dan wayang yang ditulis menjadi explicit knowledge bisa dilestarikan untuk generasi mendatang. Islam menekankan pentingnya menjaga warisan dan amanah, termasuk warisan budaya.

Kelima, SDG 17: Partnerships for the Goals. Pengetahuan yang terdokumentasi mendorong kolaborasi lintas organisasi, komunitas, bahkan negara. Dalam Islam, kerja sama untuk kebaikan adalah bagian dari ta’awun (tolong-menolong dalam kebaikan).

Dengan demikian, menjadikan tacit knowledge sebagai explicit knowledge bukan hanya strategi manajemen pengetahuan, tetapi juga kontribusi nyata terhadap SDGs. Ia adalah bagian dari ikhtiar global sekaligus amal jariyah: membangun dunia yang lebih baik, sambil menyiapkan bekal untuk akhirat.

LDII dan Transformasi Pengetahuan untuk Keberlanjutan

Sebagai organisasi kemasyarakatan Islam, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) memiliki peran strategis dalam menjaga, mengembangkan, dan menyebarkan ilmu. Dakwah, pendidikan, dan pembinaan umat yang dilakukan LDII sesungguhnya sarat dengan tacit knowledge—pengetahuan yang lahir dari pengalaman para ulama, guru, dan kader dalam membimbing masyarakat. Jika pengetahuan ini hanya tersimpan di kepala para penggerak, maka ia berisiko hilang ketika generasi berganti.

Transformasi tacit knowledge menjadi explicit knowledge menjadi penting agar nilai-nilai dakwah, metode pendidikan, dan praktik sosial yang telah terbukti efektif bisa terdokumentasi dengan baik. LDII dapat memanfaatkan teknologi digital, modul pembelajaran, hingga arsip dakwah untuk memastikan pengetahuan tersebut dapat diakses oleh generasi berikutnya. Mewujudkan tacit knowledge para pengurus senior dalam bentuk web-post di website (https://ldii.or.id/) dapat menjadi salah satu alternatif mewujudkan budaya organisasi agar bisa bertahan hidup secara berkelanjutan. Dengan demikian, LDII tidak hanya menjaga kesinambungan dakwah, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam bidang pendidikan berkualitas, pembangunan komunitas berkelanjutan, dan kerja sama global.

Dalam perspektif Islam, berbagi ilmu adalah ibadah dan amal jariyah. Dengan menjadikan pengetahuan terang dan terdokumentasi, LDII menunaikan amanah sebagai organisasi Islam yang tidak hanya membimbing umat hari ini, tetapi juga menyiapkan warisan ilmu untuk masa depan.

Ilmu yang Dibagikan Tak Pernah Berkurang

Ilmu adalah cahaya yang tidak pernah padam. Tacit knowledge memang berharga, tetapi jika hanya disimpan di kepala, ia akan hilang bersama waktu. Sebaliknya, ketika pengetahuan itu dituliskan, direkam, dan dibagikan, ia akan hidup lebih lama, melampaui usia kita, bahkan menjadi warisan bagi generasi mendatang.

Dalam Islam, berbagi ilmu bukan sekadar pilihan, melainkan ibadah. Sekecil apa pun pengetahuan yang kita miliki, ia bisa menjadi manfaat besar jika dibagikan. Dan setiap ilmu agama yang diamalkan orang lain akan kembali kepada kita sebagai amal jariyah, pahala yang terus mengalir meski kita telah tiada.

Karena itu, mari kita mulai dari langkah sederhana. Tuliskan pengalaman kerja, dokumentasikan resep keluarga, rekam cerita, atau bagikan tips kecil yang mungkin tampak sepele. Pengetahuan yang dibagikan tidak akan berkurang nilainya, justru semakin bertambah dan memberi keberkahan.

Mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge adalah ikhtiar menjaga warisan, mempercepat pembelajaran, mendorong inovasi, melestarikan budaya, mendukung SDGs, dan sekaligus menunaikan amanah spiritual. Mengubah tacit knowledge menjadi explicit knowledge menjadi sangat relevan jika dikaitkan dengan perlunya melakukan regenerasi dalam pengelolaan organisasi. Mari bersama-sama menjadikan ilmu sebagai cahaya yang menerangi dunia, sekaligus bekal menuju akhirat, dengan mengubah tacit knowledge kita masing-masing menjadi explicit knowledge.

*) Prof. Dr. Ir. Sudarsono, M.Sc, adalah Koordinator Bidang Litbang, IPTEK, Sumberdaya Alam, dan Lingkungan Hidup (LISDAL) DPP LDII.

Tags: Explicit KnowledgeIlmu PengetahuanldiiSDG4 Quality EducationTacit Knowledge

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KOMENTAR TERKINI

  • MasMT on LDII Adakan Diklat Dakwah Tingkatkan Kompetensi Khotib
  • AG1E on LDII Adakan Diklat Dakwah Tingkatkan Kompetensi Khotib
  • Nanang Naswito on Kunjungi Demplot Padi di Lahan Gambut, Ketua LDII Kalbar Dorong Penambahan Luasan Tanam
  • Nanang Naswito on LDII Berau Gelar Ngaji Khusus Wanita, Ingatkan Pentingnya Meningkatkan Ilmu Agama
  • Fadhil on Sinergi Ormas Islam Menguat, Ketua LDII Bone Masuk Kepengurusan MUI 2025–2030
  • Trending
  • Comments
  • Latest

Benarkah bahwa warga LDII tidak mau bermakmum kepada orang lain?

September 19, 2008
LDIi Pemalang

LDII Pemalang Hadiri Deklarasi Pemilu Damai 2024

November 29, 2023
Pengajian LDII Pasangkayu Libatkan Generasi Muda untuk Hindari Kemerosotan Moral

Pengajian LDII Pasangkayu Libatkan Generasi Muda untuk Hindari Kemerosotan Moral

August 31, 2025
Muhammadiyah dan LDII

Muhammadiyah dan LDII Tegaskan Umat Jangan Berpecah Karena Tahun Politik

January 12, 2023
Sarasehan LDII Pasangkayu Tegaskan Komitmen Nasionalisme dan Perkuat Peran Dakwah

Sarasehan LDII Pasangkayu Tegaskan Komitmen Nasionalisme dan Perkuat Peran Dakwah

0
DPD LDII Karangasem Siap Lanjutkan Kontribusi Positif untuk Masyarakat

DPD LDII Karangasem Siap Lanjutkan Kontribusi Positif untuk Masyarakat

0
Mengapa Tacit Knowledge Harus Menjadi Explicit Knowledge?

Mengapa Tacit Knowledge Harus Menjadi Explicit Knowledge?

0
LDII dan BPBD Kota Bontang Gelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar

LDII dan BPBD Kota Bontang Gelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar

0
Sarasehan LDII Pasangkayu Tegaskan Komitmen Nasionalisme dan Perkuat Peran Dakwah

Sarasehan LDII Pasangkayu Tegaskan Komitmen Nasionalisme dan Perkuat Peran Dakwah

February 1, 2026
DPD LDII Karangasem Siap Lanjutkan Kontribusi Positif untuk Masyarakat

DPD LDII Karangasem Siap Lanjutkan Kontribusi Positif untuk Masyarakat

February 1, 2026
Mengapa Tacit Knowledge Harus Menjadi Explicit Knowledge?

Mengapa Tacit Knowledge Harus Menjadi Explicit Knowledge?

February 1, 2026
LDII dan BPBD Kota Bontang Gelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar

LDII dan BPBD Kota Bontang Gelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar

February 1, 2026

DPP LDII

Jl. Tentara Pelajar No. 28 Patal Senayan 12210 - Jakarta Selatan.
Telepon: 0811-8604544

SEKRETARIAT
sekretariat[at]ldii.or.id
KIRIM BERITA
berita[at]ldii.or.id

BERITA TERKINI

  • Sarasehan LDII Pasangkayu Tegaskan Komitmen Nasionalisme dan Perkuat Peran Dakwah February 1, 2026
  • DPD LDII Karangasem Siap Lanjutkan Kontribusi Positif untuk Masyarakat February 1, 2026
  • Mengapa Tacit Knowledge Harus Menjadi Explicit Knowledge? February 1, 2026

NAVIGASI

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Shalat
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

KATEGORI

Kirim Berita via Telegram

klik tautan berikut:
https://t.me/ldiibot

  • Home
  • Contact
  • Jadwal Shalat
  • Hitung Zakat
  • Privacy Policy
  • NUANSA PERSADA

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.

No Result
View All Result
  • HOME
  • ORGANISASI
    • Tentang LDII
    • AD / ART LDII
    • Susunan Pengurus DPP LDII 2021-2026
    • 8 Pokok Pikiran LDII
    • Fatwa MUI
    • Daftar Website LDII
    • Video LDII
    • Contact
  • RUBRIK
    • Artikel
    • Iptek
    • Kesehatan
    • Lintas Daerah
    • Opini
    • Organisasi
    • Nasehat
    • Nasional
    • Seputar LDII
    • Tahukah Anda
  • LAIN LAIN
    • Kirim Berita
    • Hitung Zakat
    • Jadwal Shalat
  • DESAIN GRAFIS
    • Kerja Bakti Nasional 2025 dan 17 Agustus 2025

© 2020 DPP LDII - Managed by KIM & IT Division.