Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Pada akhirnya, kita sampai di satu titik hening—bukan karena keindahan ini telah habis, tetapi justru karena ia terlalu luas untuk dituliskan seluruhnya. Allah memang “keren”, dengan segala keagungan, rahmat, dan keindahan-Nya yang tak terhitung. Namun apa yang telah terucap hanyalah setetes air dari samudra luas yang tak bertepi.
Biarlah di sini kita berhenti…
Bukan untuk mengakhiri, tetapi untuk memberi ruang—agar imajinasi, inovasi dan kreativitas terus terbangun, terbang, melayang, dan menyelami sendiri keindahan-keindahan lain dari Rabb-nya.
Karena sejatinya, mengenal Allah bukan sekadar bacaan—ia adalah perjalanan. Perjalanan hati, nurani dan ruh jiwa ini. Untuk kembali.
Allah berfirman:
وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan (juga) pada dirimu sendiri, maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)
Ayat ini seakan mengajak kita untuk terus mencari, terus melihat, terus mendengar dan terus merasakan. Bahwa tanda-tanda kebesaran Allah tidak hanya di langit yang luas, tetapi juga di dalam diri kita—dalam detak jantung, dalam denyut nadi, dalam helaan napas, dalam setiap rasa yang hadir tanpa kita minta dan rasa rindu yang terus menggoda.
Maka, ketika seseorang mulai merenung, ia akan menemukan bahwa “keren”-nya Allah tidak pernah berhenti. Setiap hari ada saja keindahan baru yang tersingkap. Setiap saat seperti lahir keajaiban yang mencerahkan. Penuh hikmah. Luber berkah. Setiap ujian membawa makna. Setiap nikmat mengandung pesan. Dan setiap doa, cepat atau lambat, menemukan jalannya.
Dari sini, lahirlah harapan: semoga hati yang telah tersentuh ini tidak kembali lalai. Semoga ia tumbuh menjadi lebih indah, gemerlap dengan cahaya iman benderang. Rajin dan tekun dalam beribadah. Rapi dan santun dalam berbudi. Hemat dan tekun dalam berbagi. Bukan karena terpaksa, tetapi karena cinta. Bukan karena takut semata, tetapi karena rindu.
Allah mengingatkan:
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ
“Maka bergegaslah/berlarilah menuju Allah.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)
Perintah ini bukan sekadar ajakan, tetapi seruan penuh kasih. Seakan Allah berkata: jangan berhenti di sini, teruslah mendekat. Dan siapa yang berlari menuju Allah, ia tidak akan pernah merugi. Sudah tersedia ruang rindu dan janji yang abadi.
Dalam hal ini, Rasulullah ﷺ menitipkan wasiat indah dalam sebuah hadits qudsi: “Barangsiapa mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Barangsiapa mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa “keren”-nya ini. Usaha kecil dari seorang hamba dibalas dengan kedekatan yang berlipat dari Allah. Tidak ada hubungan lain yang seperti ini—di mana yang Maha Agung justru “mendekat” kepada yang lemah.
Para ulama, alim faqih, telah lama merasakan keindahan ini. Sang Guru Bijak pernah berkata bahwa dalam hati ada kekosongan yang tidak akan pernah terisi kecuali dengan mengenal Allah. Dan semakin seseorang mengenal-Nya, semakin ia tidak ingin jauh dari-Nya.
Sementara seorang Alim-Faqih lain menjelaskan bahwa puncak kebahagiaan seorang hamba adalah ketika ia tenggelam dalam ma’rifatullah—mengenal Allah dengan hati, hingga ibadah bukan lagi beban, tetapi kebutuhan.
Di sinilah harapan itu tumbuh: semoga ibadah kita tidak lagi sekadar rutinitas, tetapi menjadi sumber energi. Semoga semangat kita tidak padam oleh dunia, tetapi justru semakin kuat setiap saat. Salat menjadi tempat pulang, dzikir menjadi penyejuk, dan ketaatan menjadi jalan kebahagiaan. Karena ketika seseorang telah merasakan “keren”-nya Allah, ia tidak akan mudah tergoda oleh yang lain. Ia tahu ke mana harus kembali. Ia tahu kepada siapa harus berharap.
Maka biarlah tulisan ini berhenti di sini…
Namun, perjalanan hati tidak boleh berhenti.
Biarlah setiap mata yang pernah membaca tulisan ini melanjutkan sendiri pencariannya—menemukan “keren”-nya Allah dalam sujudnya, dalam doanya, dalam diamnya, dan dalam hidupnya secara keseluruhan. Yang indah, eksotis dan menawan lagi rupawan.
Dan semoga, dari pencarian itu, lahir satu tekad yang tak pernah padam:
untuk terus beribadah…
terus mendekat…
terus mencintai…
hingga suatu hari nanti, kita benar-benar bertemu dengan Dzat Yang selama ini kita sebut dalam setiap kalimat takbir: Allahu Akbar.
Wow keren …!!!









