Singkawang (10/6). Ketua DPD LDII Kota Singkawang Ferli Dedek mendorong penguatan keharmonisan dan ketahanan keluarga. Sebagai fondasi dalam mencetak generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Hal itu ia sampaikan pada Silaturahim Akbar LDII Kota Singkawang di Masjid Al Barokah, Singkawang, pada Minggu (7/6/2026) lalu. Menurut Ferli, keluarga berperan strategis membentuk karakter, moral, dan kualitas sumber daya manusia di tengah berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks.
“Keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa yang religius dan berkarakter. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga menjadi hal yang sangat penting untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas,” katanya.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi digital, perubahan pola interaksi sosial, hingga berbagai persoalan moral menjadi tantangan generasi muda mewujudkan keluarga yang mampu menjalankan fungsi pendidikan dan pembinaan karakter secara optimal.
Karena itu, LDII berupaya mendorong keluarga membangun hubungan yang harmonis melalui komunikasi yang baik, saling memahami peran masing-masing, serta mengedepankan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan, LDII menjadikan keteladanan keluarga Nabi Ibrahim AS sebagai salah satu rujukan dalam membangun keluarga yang kokoh, terutama dalam aspek keimanan, ketaatan, pengorbanan, serta komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.
“Di tengah berbagai tantangan kehidupan modern, keluarga perlu memiliki pegangan nilai yang kuat. Keteladanan Nabi Ibrahim AS menunjukkan bagaimana sebuah keluarga dapat menghadapi berbagai ujian dengan tetap menjaga keimanan, keharmonisan, dan kebersamaan,” ujarnya.
Ferli juga menilai komunikasi adalah salah satu faktor penting dalam berumah tangga. Setiap anggota keluarga perlu memahami tugas dan tanggung jawabnya sehingga tercipta hubungan yang harmonis dan saling mendukung.
Selain itu, LDII juga mendorong penerapan 29 karakter luhur dalam kehidupan keluarga, di antaranya jujur, amanah, kerja keras, hemat, rukun, kompak, serta mampu bekerja sama dengan baik.
Menurut dia, pembiasaan karakter tersebut dilakukan melalui berbagai program pembinaan, mulai dari pengajian rutin, pendidikan karakter, pembinaan generasi muda, hingga program parenting bagi orang tua.
“Karakter yang baik tidak terbentuk secara instan. Karena itu, perlu pembinaan yang berkelanjutan agar nilai-nilai luhur dapat menjadi budaya dalam keluarga dan kehidupan bermasyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, penguatan keluarga tidak hanya bertujuan menciptakan rumah tangga yang harmonis, tetapi juga menyiapkan generasi yang profesional dan religius, sehingga mampu berkontribusi bagi pembangunan bangsa pada masa depan.









