Tabanan (2/6). Warga LDII Kabupaten Tabanan melestarikan tradisi ngejot daging kurban pada Idul Adha 1447H, Rabu, (27/5). Hal itu untuk menjaga kerukunan warga dan antarumat beragama.
Ketua DPD LDII Tabanan, Maulana Sandijaya mengatakan, ngejot berarti memberikan atau membagikan daging kepada tetangga, kerabat, atau sesama warga. Daging yang dibagikan tidak hanya pembagian daging kurban mentah, tapi juga hidangan masak kepada warga. Pihaknya membagikan daging kurban kepada masyarakat di sekitar Gedung Sekretariat LDII Tabanan, Banjar Malkangin, Dajan Peken.
”Ada tiga ekor kambing yang kami masak gulai. Kemudian kami ngejot ke tetangga dan warga sekitar, semua kalangan tanpa pandang agama, suku, ras, dan golongan,” ujarnya. Ia melanjutkan, untuk umat lain yang tidak mengonsumsi daging sapi akan diberi daging kambing, dan sebaliknya.
Sandijaya menuturkan, tujuan ngejot untuk menjaga kerukunan dan persaudaraan di Kabupaten Tabanan. LDII Tabanan juga menggandeng para pemuda dan remaja untuk berkeliling membagikan ke rumah warga, dengan prioritas kaum duafa. ”Kami sengaja melibatkan generasi muda untuk ngejot, agar mereka belajar menghargai perbedaan. Zaman boleh berubah, teknologi boleh maju, tapi menghargai perbedaan tidak boleh hilang,” tukasnya.
LDII ngejot daging kurban ini juga sebagai bentuk kepedulian sosial menghadapi ketidakpastian ekonomi global. Menurut Sandijaya, nilai dolar yang melonjak, berpotensi menciptakan kesenjangan sosial kian lebar. ”Dalam konteks inilah, kurban dan LDII Ngejot bukan hanya sebagai tradisi, melainkan sebagai instrumen keadilan ekonomi. Daging kurban yang kami bagikan adalah pernyataan sikap, menolak kenyang sendirian sementara saudaranya kelaparan,” tegasnya.
Untuk Idul Adha tahun ini, warga LDII Tabanan menyembelih lima sapi dan 17 kambing. Selain itu juga menggunakan besek untuk mewadahi daging kurban.
Selain itu, juru sembelih di LDII Tabanan juga sudah mendapatkan pelatihan juru sembelih halal (juleha) beserta pengelolaan limbah ramah lingkungan. Di pelatihan itu, pembuangan darah dan kotoran hewan tidak sembarangan, tapi melalui lubang khusus.
Untuk menghilangkan bau bekas hewan dan darah, warga LDII Tabanan membuat cairan eco-enzyme organik. ”Pengelolaan limbah organik ini sebagai aksi nyata warga LDII Tabanan membantu pemerintah dalam menangani sampah, sehingga lingkungan tetap bersih dan lestari,” pungkasnya.








