Oleh Faidzunal A. Abdillah, Pemerhati sosial dan lingkungan – Warga LDII tinggal di Serpong, Tangerang Selatan.
Di tengah dunia yang riuh oleh pencarian makna, manusia sering tersesat dalam kerumitan yang ia ciptakan sendiri. Ia mengejar pengakuan, kekuasaan, dan kesenangan, seakan semua itu mampu menenangkan jiwa. Padahal, ada satu jalan yang sederhana namun agung—jalan yang menjadikan hidup ringan namun bermakna: menyembah Allah Yang Maha Esa. Dan sungguh, dalam kedalaman maknanya, itulah “keren” yang sejati.
Keren, dalam pengertian hakiki, bukanlah tentang penampilan atau pujian manusia. Ia adalah tentang keberanian memilih kebenaran di tengah kebingungan. Ia adalah keteguhan hati untuk hanya tunduk kepada satu Rabb, bukan kepada hawa nafsu, bukan kepada dunia, bukan pula kepada manusia. Tauhid membebaskan manusia dari perbudakan yang tidak terlihat—perbudakan terhadap selain Allah.
Allah berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini bukan sekadar pernyataan tujuan, tetapi penegasan jati diri manusia. Bahwa kita ini diciptakan untuk satu misi mulia: menyembah Allah semata. Maka ketika seseorang menemukan jalan ini, ia sebenarnya telah menemukan arah hidupnya. Dan bukankah menemukan arah di tengah kesesatan adalah sesuatu yang luar biasa?
Menyembah Allah Yang Esa juga berarti hidup dengan kemurnian niat. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada pencitraan. Semua dilakukan karena Allah. Inilah bentuk kejujuran tertinggi. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Orang yang mentauhidkan Allah dengan benar tidak lagi terombang-ambing oleh penilaian manusia. Ia tidak hancur karena celaan, tidak pula melambung karena pujian. Hatinya terikat pada Allah, bukan pada makhluk. Ini adalah kemerdekaan sejati—dan kemerdekaan seperti ini adalah sesuatu yang sangat langka, sangat kuat, dan sangat “keren”.
Lebih dari itu, tauhid memberikan ketenangan yang tidak bisa dibeli oleh dunia. Ketika seseorang hanya bergantung kepada Allah, ia tidak takut kehilangan selain-Nya. Ketika ia yakin bahwa Allah Maha Mengatur, maka segala kegelisahan menjadi ringan. Allah berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan ini bukan hasil dari dunia yang sempurna, tetapi dari hati yang terhubung dengan Rabb-nya. Maka orang yang bertauhid tetap tenang meski badai datang, tetap teguh meski ujian menghimpit. Dalam sebuah hadits yang agung, Rasulullah ﷺ bersabda: “Hak Allah atas hamba adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah hak terbesar, dan ketika seorang hamba menunaikannya, ia sedang menempatkan dirinya pada posisi yang paling mulia di sisi Allah. Tidak ada kehormatan yang lebih tinggi daripada menjadi hamba yang mentauhidkan Rabb-nya.
Menyembah Allah Yang Esa juga berarti memiliki arah akhir yang jelas: surga. Allah menjanjikan keselamatan bagi orang-orang yang menjaga tauhidnya. Bahkan dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, maka ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)
Bukankah ini janji yang luar biasa? Bahwa kesederhanaan dalam keyakinan—tidak menyekutukan Allah—membawa kepada keabadian yang penuh kenikmatan.
Akhirnya, menyembah dan beribadah kepada Allah Yang Esa itu keren karena ia menempatkan manusia pada derajat yang paling autentik: sebagai hamba yang mulia. Ia tidak tunduk kepada dunia, tetapi dunia yang tunduk kepadanya. Ia tidak kehilangan arah, karena ia berjalan menuju Allah. Ia tidak kosong, karena hatinya dipenuhi dzikir.
Di tengah dunia yang sering memuja yang fana, menjadi hamba yang bertauhid adalah bentuk keberanian tertinggi. Dan sungguh, tidak ada yang lebih “keren” daripada hati yang hanya sujud kepada Allah semata.








