Jakarta (23/4). Bank Syariah Indonesia (BSI) meresmikan Reverse Vending Machine (RVM) di Pondok Pesantren (Ponpes) Minhajurrosyidin sebagai upaya pengelolaan sampah plastik berbasis teknologi. Seremoni tersebut sekaligus mendorong penerapan ekonomi hijau di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar.
Pengadaan RVM di ponpes tersebut merupakan pelaksanaan program Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah (EPIKS) yang didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada, Rabu (22/4/2026). Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Perlindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis OJK Jabodebek, Nuning Isnainijati, menyatakan bahwa Ponpes Minhaajurrosyidin merupakan pesantren pertama di Indonesia yang mengaplikasikan RVM.
Menurutnya, hal ini menjadi langkah maju dalam pengelolaan ekonomi hijau, “Peresmian RVM ini merupakan suatu kemajuan besar, khususnya dalam pengelolaan green economy. Selain pengelolaan sampah anorganik, ponpes ini juga telah mengelola sampah organik. Hal ini tidak hanya meningkatkan kualitas lingkungan, tetapi juga mendorong inklusi dan literasi keuangan syariah di lingkungan pesantren dan masyarakat sekitar,” jelasnya.
Ia menambahkan, implementasi RVM merupakan bagian dari rangkaian program EPIKS yang tidak hanya membangun ekosistem keuangan syariah di pesantren, tetapi juga memberdayakan masyarakat di sekitarnya.
Ketua Pondok Pesantren Minhaajurrosyidin, KH Chairul Baihaqi, mengatakan program ini merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem EPIKS sekaligus mendorong pengelolaan sampah berbasis zero waste di lingkungan pesantren.
“Kami mengelola kawasan pesantren seluas 12 hektar dengan prinsip zero waste, sehingga diharapkan tidak ada sampah yang terbuang dan tidak membebani pemerintah daerah serta masyarakat sekitar. Sampah yang tidak terurai kami dorong menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat sekitar, khususnya di Kelurahan Lubang Buaya,” ujar Baihaqi.
Ia menambahkan, sampah organik diolah menjadi pupuk untuk mendukung kegiatan pertanian seperti hidroponik dan penanaman sayuran, serta dimanfaatkan sebagai pakan ternak dalam mini peternakan dan perikanan yang dimiliki pesantren.
Pasca peresmian, dilaksanakan juga pelatihan pengelolaan sampah plastik dan daur ulang yang diselenggarakan oleh BSI dan OJK. Pelatihan ini diharapkan menjadi stimulus bagi masyarakat untuk memanfaatkan sampah agar bernilai ekonomis.
Departement Head BSI, Harsaid Yusuf Bakhtiar menyampaikan komitmennya dalam mendukung program tersebut melalui kolaborasi berkelanjutan. Ia menyatakan siap berkolaborasi dan bersinergi dengan berbagai pihak agar program ini terus berjalan, tidak hanya di pondok pesantren tetapi juga di masyarakat luas.
“Harapannya, sistem RVM ini dapat menstimulus masyarakat untuk lebih mengenal dan menggunakan produk perbankan syariah,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa program ini mengusung tagline ‘mengubah sampah menjadi emas’, dengan harapan masyarakat terdorong membuka rekening serta memanfaatkan berbagai produk keuangan seperti tabungan haji, tabungan emas, dan tabungan perencanaan.
Sementara itu, pengurus DPP LDII, Wira Supardi, menilai program ini sebagai bentuk kontribusi dalam mengatasi permasalahan sampah nasional. Menurutnya, sampah merupakan problem besar nasional, sehingga program ini diharapkan dapat mengedukasi masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. “Kami berharap inisiatif ini dapat diikuti oleh pondok pesantren lain di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Dengan hadirnya mesin RVM di Ponpes Minhaajurrosyidin, diharapkan menjadi percontohan dalam pengelolaan sampah berbasis teknologi, sekaligus memperkuat peran pesantren dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan dan peningkatan literasi keuangan syariah.








