Bontang (1/2). Kondisi darurat mengancam nyawa dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Situasi itu menuntut tindakan cepat dan tepat melalui Bantuan Hidup Dasar (BHD). Menyikapi kondisi tersebut, DPD LDII Kota Bontang bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bontang menyosialisasikan Pelatihan Bantuan Hidup Dasar kepada remaja LDII.
Acara yang digelar di Masjid Baitul Mustofa, Gunung Telihan, Bontang, Kalimantan Timur itu digelar pada Minggu (18/1/2026). Kegiatan tersebut untuk meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan BHD para remaja saat menemui kondisi darurat di lingkungan sekitar.
Menurut Ketua DPD LDII Kota Bontang, Anton Kuswanto, kemampuan dan pemahaman BHD sangat penting dimiliki oleh setiap individu, “Harapan kami, kegiatan ini dapat memperluas wawasan serta meningkatkan keterampilan remaja LDII dalam memberikan pertolongan pertama, khususnya pada situasi gawat darurat yang mengancam keselamatan jiwa,” tuturnya.
BHD merupakan upaya awal untuk mempertahankan kehidupan seseorang yang mengalami kegawatdaruratan, seperti henti jantung atau henti napas. Sejauh ini tingkat pengetahuan masyarakat mengenai BHD masih tergolong rendah. Padahal, keterlambatan penanganan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen bahkan kematian dalam hitungan menit akibat kekurangan oksigen.
Karena itu, Anton menekankan pengetahuan dan keterampilan BHD penting untuk ditanamkan sejak dini, khususnya kepada kalangan remaja sebagai generasi penerus, agar mampu bersikap sigap dan tepat memberikan pertolongan pertama.
Sementara itu, Koordinator Tim Instruktur BPBD Kota Bontang, Syamsudin, menyampaikan apresiasi kepada LDII Kota Bontang atas inisiatif penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai LDII sebagai organisasi kemasyarakatan yang konsisten dan peduli terhadap isu kebencanaan serta keselamatan masyarakat.
“Kami mengapresiasi LDII Kota Bontang yang secara aktif mengadakan kegiatan ini. Upaya pelatihan BHD diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus menumbuhkan keberanian remaja menolong korban yang membutuhkan bantuan, terutama dalam situasi bencana,” jelasnya.
Lebih lanjut, Syamsudin menegaskan, dalam kondisi darurat maupun bencana, pertolongan pertama bukan semata-mata menjadi tanggung jawab petugas, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. “Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan para peserta dapat menjadi agen kesiapsiagaan serta mampu berperan aktif dalam upaya penyelamatan jiwa di lingkungan masing-masing,” katanya.








